Selasa, 03 Januari 2012

KENALI TANDA-TANDA STRES

Anda Stres? Kenali Tanda-tandanya
Tekanan hidup dan beban pekerjaan sering memicu stres. Dampaknya bisa buruk bagi sistem pencernaan seperti iritasi pada organ pencernaan dan bahkan pada penyakit-penyakit kardiovaskular dan stroke. Sayangnya, acapkali kita tidak menyadari kalau sebenarnya ada gejala dan tanda kalau kita terkena stres. Inilah lima tanda-tanda itu.

1. Sakit pada rahang

Bukan cuma karena sakit gigi, tekanan emosional bisa membuat otot rahang terasa sakit. Gejala ini biasanya terjadi saat Anda terbangun atau tertidur. Secara umum, perhatikan apa yang pernah Anda alami, sehingga ketika gejala itu datang lagi Anda tahu apa yang harus dilakukan. Fokuslah pada merelaksasi rahang Anda saat merasa panik.

2. Gatal-gatal pada kulit

Stres membuat perubahan pada sel kekebalan yang ditemukan di kulit dan membuat semakin aktif. Stres bisa mengakibatkan beberapa kondisi seperti psoriasis, rosasea, dan eczema--atau lebih buruk lagi. Jika kulit merasa gatal belakangan ini, perhatikan tingkat stres dalam hidup Anda, dan ambil langkah untuk meminimalkan. Anda juga bisa mengunjungi dokter kulit yang bisa membantu mengatasi problem ini.

3. Mata berkedut

Meskipun penyebab pasti mata berkedut belum diketahui, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda butuh istirahat dan santai. Kadang kedutan ini akan pergi setelah Anda tidur nyenyak di malam harinya, tapi bisa juga terjadi sampai tiga minggu. Kelelahan dan konsumsi kafein yang berlebih bisa menjadi kontributor utama mata berkedut. Mengurangi hal-hal yang bisa membuat stres adalah cara utama untuk menghentikan kedutan ini.

4. Sakit pada gusi

Stres meningkatkan kadar hormon kortisol, yang akhirnya membuat rasa panas di seluruh tubuh termasuk gusi. Ini juga bisa melemahkan sistem kekebalan, yang memicu pertumbuhan bakteri dalam mulut dan memicu iritasi dan peradangan pada gusi. Selain menyikat gigi dan berkumur dengan cairan pembersih mulut, dorong sistem kekebalan tubuh dengan makan makanan bergizi seimbang, cukup tidur dan konsumsi multivitamin.

5. Mual

Beberapa stres bisa memicu rasa tidak enak pada lambung. Tingkat stres yang tinggi telah menunjukkan peningkatan gejala seperti sakit perut, sebagian disebabkan oleh hormon yang dilepaskan sebagai hasil dari stres atau cemas.

Tubuh memproduksi pertahanan sebagai reaksi dari stres, yang bisa memicu jantung berdebar dan meningkatnya adrenalin. Olahraga merupakan cara bagus untuk melawan akibat stres termasuk mual. Makanan juga memegang peranan penting. Jadi kurangi minum kopi dan jauhi makanan yang terlalu banyak bumbu.


Orang tenryata bisa tetap belajar sembari tidur. Inilah temuan terbaru para ahli dari Michigan State University tentang sebuah memori tanpa sadar yang jenisnya belum diketahui dengan pasti.

“Kami menduga bahwa kami menyelidiki sebentuk memori yang terpisah, tidak serupa dengan sistem memori yang biasa,” kata Kimberly Fenn, asisten profesor bidang psikologi yang memimpin riset tersebut seperti dimuat dalam jurnal the Journal of Experimental Psychology : General.

“Ditemukan bukti yang kuat bahwa selama tidur, otak Anda memproses informasi tanpa Anda sadari dan kemampuan ini kemungkinan berkontribusi pada memori ketika kita dalam keadaan sadar,’’ sambung Fenn.

Dalam studi yang meneliti lebih dari 250 orang, Fenn dan rekannya, Zach Hambrik, asisten profesor bidang psikologi, mengatakan bahwa orang memperoleh efek yang berbeda dari kemampuan "memori tidur" ini.

Pada sebagian orang, kemampuannya meningkat sangat pesat sementara yang lain sama sekali tidak ada perubahan. Kemampuan ini, ujar mereka, adalah kemampuan baru yang sebelumnya merupakan bentuk memori yang tidak dikenal.

“Anda dan saya bisa saja tidur dalam waktu yang bersamaan dengan lama tidur yang sama. Tetapi ketika memori Anda meningkat sangat pesat, mungkin saja tidak ada perubahan apapun di memori saya,’’ ungkap Fenn.

Fenn yakin bahwa potensi dari memori yang terpisah ini tidak akan tertangkap oleh tes-tes kecerdasan maupun tes bakat seperti SAT (Scholastic Assessment Test, tes masuk perguruan tinggi di Amerika) dan ACT (American College Testing, tes untuk masuk ke sekolah menengah dan perguruan tinggi yang lazim dilakukan di Amerika).

“Ini adalah langkah pertama untuk meneliti apakah bentuk dari memori baru yang potensial ini berhubungan dengan kemampuan belajar di dalam kelas,” lanjut Fenn.

Temuan ini juga memperkuat bukti bahwa tidur malam yang cukup sangat baik dampaknya.

Menurut the National Sleep Foundation, jumlah jam tidur orang setiap tahun semakin menurun, dengan 63 persen dari orang Amerika mengatakan bahwa kebutuhan tidur mereka setiap pekan tidak pernah tercukupi.

Tidak Perlu Malu Periksa Serviks


Asnah, sebut saja begitu, merasa hidup sehat dan baik-baik saja selama ini. Ia juga tidak suka "jajan" selama pernikahannya. Tapi, dua bulan lalu, petir serasa menyambar kepalanya: Asnah terdeteksi kanker serviks atau kanker mulut rahim.

"Saya hampir saja mengira, kalau bukan saya, jangan-jangan suami saya yang suka jajan," ujar Asnah. Perempuan berusia 45 tahun ini mengaku kehidupan pernikahannya dengan sang suami selama 26 tahun selalu berjalan harmonis.

Asnah terdeteksi kanker serviks setelah menjalani pemeriksaan sederhana di puskesmas di dekat tempatnya tinggal. Metodenya sederhana, hanya menggunakan asam asetat. Metode ini dikenal dengan sebutan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). "Seharusnya saya dari dulu melakukan tes ini, tidak perlu malu," kata Asnah, dalam peluncuran "Bulan Cegah Kanker Serviks" di Puskesmas Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Perasaan malu adalah masalah terbesar perempuan Indonesia untuk memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas terdekat guna menjalani deteksi dini kanker serviks. Kanker jenis ini patut diwaspadai. Sebab diperkirakan ada 15 ribu kasus baru setiap tahun, 8.000 di antaranya meninggal dunia. Data dari Female Cancer Fakultas Kedokteran Indonesia (FKUI) menunjukkan hampir setiap jam perempuan Indonesia meninggal dunia akibat kanker serviks. Padahal untuk mendeteksi dini penyakit ini biayanya cukup murah, hanya Rp 5.000.

"Bukan karena tidak punya uang. Ibu-ibu enggan memeriksakan diri karena malu," ujar Ekarini Aryasatiani, dokter spesialis obstetri dan ginekologi Rumah Sakit Tarakan, Jakarta, di tempat yang sama.

Malu yang dimaksud Ekarini bermacam-macam. Ada yang malu karena harus membuka baju. Ada pula yang malu karena takut ketahuan pernah ”jajan”. Yang terakhir, malu yang sering terjadi pada pasien perempuan muda, yaitu mereka malu ketahuan pernah berhubungan seks sebelum menikah. "Padahal, metode yang paling efektif saat ini adalah see and treat, lihat dan langsung diobati atau dirujuk ke rumah sakit apabila terdeteksi kanker serviks," ujarnya.

Demi menyiasati permasalahan "malu" ini, Ekarini memiliki metode unik yang dinamakan metode ABCD atau "Ayo Buka Celana Dalammu". Di ruang kerjanya, setelah pasien buka celana, dokter langsung membuka organ yang perlu diinspeksi, lalu mengolesi dengan asam asetat. Hasilnya akan terlihat dalam beberapa menit.

Menurut Ekarini, metode IVA bukanlah metode baru dalam mendeteksi kanker serviks. Iva sudah ada sejak 2003. Sebelum metode IVA disosialisasikan, ada metode lain yang disebut dengan Pap Smear.

Namun, menurut Laila Nuranna, dokter spesialis obstetri ginekologi, yang juga Ketua Pusat Pengkajian Kanker Perempuan FKUI, metode Pap Smear lebih ribet dan memakan waktu cukup lama untuk mengetahui hasilnya. "Harus ada alat yang harus dimasukkan," ujarnya, "Tidak hanya itu, metode Pap Smear membutuhkan biaya yang lebih banyak.”

Kanker serviks adalah jenis kanker yang disebabkan oleh virus bernama human papilloma (HPV). Virus ini membuat kerusakan organ mulut rahim pada perempuan. Kerusakan ini kemudian menimbulkan luka dan berkembang menjadi kanker. Virus ini mudah sekali masuk ke mulut rahim lantaran letak mulut rahim yang hanya berjarak 20 sentimeter dari vagina.

Umumnya kanker serviks diderita oleh perempuan berusia produktif (25-50 tahun) dan sangat berisiko pada perempuan yang melakukan hubungan seks di usia muda, sering berganti pasangan, mengalami keputihan, dan merokok. Gejala kanker serviks sulit diketahui, sehingga wanita kerap tidak menyadari kehadirannya.

Agar deteksi dini bisa dilakukan, Laila bersama Yayasan Kanker Indonesia dan Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia menargetkan, pada 2017, tak ada lagi perempuan Indonesia yang kesulitan memeriksakan diri melalui IVA.

Supaya Tubuh Tak Gampang Sakit


Diare yang pernah dialami Arya, 4 tahun, membuat Widia, ibunya, kini lebih berhati-hati. Perempuan 32 tahun itu tidak ingin kejadian yang membuat Arya berak-berak sampai berat badannya merosot terulang lagi. Setiap sebelum makan, warga Kebon Jeruk, Jakarta, ini harus memastikan Arya telah mencuci tangan.

"Apa saja bisa dipegang, termasuk barang-barang yang kotor. Karena itu sebelum makan harus dipastikan dia cuci tangan," kata Widya. Namun selama ini ia merasa cukup bila anak tunggalnya itu mencuci tangan dengan air saja, tanpa sabun.

Menurut Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan dr. Kirana Pritasari, pembiasaan mencuci tangan pakai sabun pada anak-anak sangat penting dilakukan orang tua. Selain sebagai bentuk pembiasaan pola hidup yang sehat, mencuci tangan pakai sabun juga menghindarkan kemungkinan anak-anak terkena penyakit yang ditularkan melalui kuman.

"Dengan mencuci tangan pakai sabun, sejumlah penyakit infeksi bisa kita cegah," kata Kirana dalam diskusi yang menyoalkan pentingnya cuci tangan pakai sabun pada anak-anak, Kamis lalu di Plaza Bapindo, Jakarta. Selain Kirana, hadir juga sebagai pembicara Tb Rachmat Sentika, dokter spesialis anak Rumah Sakit Bintaro.

Menurut Kirana, penyakit yang bisa dicegah penularannya dengan mencuci tangan pakai sabun antara lain hepatitis A, disentri, diare, tipus, radang tenggorokan, masalah saluran pernapasan, dan penyakit lainnya. Kebiasaan sehat itu dilakukan pada lima waktu, yaitu mandi menggunakan sabun, cuci tangan pakai sabun sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam, dan setelah dari toilet.

Mencuci tangan menggunakan sabun adalah kegiatan yang mudah, tapi berdampak penting bagi kesehatan. Sayangnya tak banyak orang yang mempraktekkan kebiasaan ini. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat 2010 menunjukkan persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat dengan kategori baik secara rata-rata nasional hanya 35,68 persen. Sedangkan persentase penduduk yang berperilaku benar dalam cuci tangan pakai sabun secara rata-rata nasional hanya 24,48 persen.

Di sisi lain, penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6-10 tahun) pada umumnya berkaitan dengan pola hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun. Studi yang dilakukan Curtis V. Cairncross, peneliti asal Inggris, menunjukkan bahwa mencuci tangan pakai sabun dapat menurunkan risiko diare hingga 47 persen.

Berkaitan dengan pembiasaan sejak kanak-kanak, Rachmat Sentika menjelaskan pembentukan kebiasaan baru, seperti kebiasaan cuci tangan pakai sabun, secara medis sudah dikaji secara ilmiah. Makin sering suatu fenomena tertangkap oleh pancaindra, responsnya makin cepat dan lama tersimpan dalam memori, sehingga akhirnya menjadi kebiasaan. "Karena itu berikan informasi sejelas mungkin, sering, dan mudah diingat, serta dilakukan secara kontinu hingga menjadi kebiasaan dan budaya," katanya.

Teori dan penelitian mengenai hal itu, salah satunya, diungkapkan Maxwell Maltz dalam buku Psyco-Cybernetics. Di situ ia menjelaskan bahwa untuk membentuk suatu kebiasaan baru pada seseorang dibutuhkan waktu minimal 21 hari secara terus-menerus tanpa putus. "Kenapa 21 hari? Karena selama waktu itu sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik bisa dibentuk,” kata Rachmat.

Selain berdampak pada kesehatan, cuci tangan pakai sabun juga membuat tingkat kehadiran siswa ke sekolah lebih tinggi karena terhindar dari sakit. Penelitian di luar negeri menunjukkan kebiasaan itu mengurangi absensi sekitar 42 persen. Di Indonesia, hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat Spektra terhadap 550 siswa di 11 kabupaten di Jawa Timur, dengan perilaku cuci tangan pakai sabun terutama sebelum makan, dapat menurunkan tingkat absensi anak akibat sakit diare hingga 11 persen. 

Minum Kopi Kurangi Risiko Kanker


Hasil penelitian ini barangkali disambut sukacita para penggemar kopi. Sebuah studi baru-baru ini yang dimuat pada Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, sebuah jurnal dari American Association for Cancer Research, menjadi alasannya.

Di jurnal itu disebutkan peminum kopi yang mengkonsumsi empat cangkir kopi setiap hari memiliki risiko 25 persen lebih rendah terkena perkembangan kanker endometrium. Diduga ini terjadi karena adanya kandungan antioksidan dalam kopi yang memungkinkan mekanisme tersebut.

Kepala peneliti dan guru besar nutrisi dan epidemiologi Harvard School of Public Health Edward Giovannucci mengatakan kopi sudah mulai terbukti berperan sebagai agen pelindung kanker yang terkait dengan obesitas, estrogen, dan insulin.

"Kopi telah terbukti menjadi pelindung terhadap diabetes karena efeknya pada insulin. Jadi kami berhipotesis bahwa kita akan melihat penurunan pada beberapa kanker juga," kata Edward.

Edward dan koleganya, termasuk Youjin Je, kandidat doktor di lembaga Edward bekerja, melihat kasus kanker endometrium pada hampir 70 ribu perempuan yang ikut pada penelitian Nurse's Health Study. Selama 26 tahun mereka mendokumentasikan 672 kasus kanker endometrium. Lebih dari empat cangkir kopi dikaitkan dengan penurunan 25 persen dalam risiko, sementara dua sampai tiga cangkir memiliki risiko 7 persen lebih rendah.

Hasil ini diduga berlaku juga pada kopi tanpa kafein, dengan penurunan 22 persen untuk kopi lebih dari dua cangkir per hari.

Edward mengatakan dia ingin melihat penelitian lebih lanjut soal efek kopi terhadap kanker ini. Sebab pada penelitian ini dan sejenisnya, asupan kopi dipilih dan tidak random.

"Kopi telah lama dihubungkan dengan merokok. Jika Anda minum kopi dan merokok, efek positif dari kopi akan lebih dari sebanding dengan efek negatif dari rokok. meski demikian, tes laboratorium menemukan bahwa kopi memiliki lebih banyak antioksidan dibanding kebanyakan sayuran dan buah," kata Edward.

Kuat Tak Sama dengan Sehat


Mestinya malam itu jadi hari yang menyenangkan bagi Antonio Cassano, 29 tahun. Striker AC Milan tersebut baru saja membela klubnya saat melawan AS Roma pada Sabtu dua pekan lalu. Milan memenangi laga tandang itu dengan skor 3-2. Tapi tak dinyana, saat berada di pesawat bersama rombongan, tiba-tiba ia kesulitan berbicara dan bergerak. Penglihatannya juga kabur. Dia mengalami kejadian itu sekitar 30 menit sebelum akhirnya kembali normal. Keesokan harinya, Cassano harus dirawat di Rumah Sakit Policlino.

Dokter tim, Rodolvo Tavana, mengatakan Cassano berada dalam kondisi tidak sehat. Dia menyarankan Cassano agar menjalani pemeriksaan jantung dan saraf di rumah sakit tersebut. Surat kabar La Gazzetta dello Sport menyebutkan bahwa Cassano terkena transient ischemic attack (TIA) atau gangguan fungsi otak sementara akibat berkurangnya pasokan darah.

Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budhi Setianto, SpJP, serangan ischemic (iskemia) terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen pada organ tertentu. Oksigen ini dibawa oleh butir-butir darah.

Mekanisme sirkulasi darah mensyaratkan adanya pembuluh darah sebagai pipa, jantung sebagai pompa, serta listrik jantung yang mengatur irama detak jantung. "Jadi memang tidak sederhana, harus diperhitungkan semuanya," kata Budhi saat ditemui di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Jumat lalu.

Pada atlet profesional, latihan keras mampu membuat jantung berdegup kencang, sehingga otot jantung pun jadi tebal. Sementara orang kebanyakan memiliki 60-100 denyut jantung per menit, seorang atlet bisa 35-180 denyut jantung. Ketebalan otot ini pada akhirnya mempengaruhi irama jantung yang diatur oleh listrik jantung. "Kelainan listrik jantung juga bisa mengakibatkan iskemia," kata Budhi.

Serangan iskemia juga bisa terjadi akibat gaya hidup tidak sehat. Meski sudah berolahraga rutin, bila pola makan tidak sehat, misalnya meminum minuman keras atau makan makanan berlemak, bisa mengakibatkan penyempitan pembuluh darah yang menimbulkan iskemia.

Menjadi atlet atau olahragawan memang bukan jaminan terbebas dari serangan jantung. Ini pun diiyakan dr. Phaidon Toruan, corporate trainerdi bidang kesehatan. "Kuat tidak sama dengan sehat. Kalau atlet kuat, iya, tapi belum tentu sehat," kata Phaidon.

Dia menilai kerasnya persaingan dalam industri sepak bola telah menyebabkan pemain harus berada dalam penampilan yang maksimal di luar batas kemampuan manusia normal. "Industri ini bikin pemain jadiinhuman," ujarnya.

Kasus kematian pemain saat berlaga cukup sering terjadi. Ini, misalnya, dialami Marc-Vivien Foe, yang meninggal dunia di tengah lapangan saat pertandingan antara Kamerun versus Kolombia pada 2003. Dari dalam negeri, ada nama Eri Irianto, 26 tahun. Pemain Persebaya Surabaya ini meninggal dunia dengan dugaan gagal jantung beberapa jam setelah Persebaya melawan PSIM Yogyakarta pada April 2000.

Serangan jantung memang telah menjadi penyakit paling mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada 2010. Saat ini sedikitnya 78 persen kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan miskin dan menengah.

Di Indonesia tingginya angka kematian akibat penyakit jantung mencapai 26 persen. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional, dalam 10 tahun terakhir, angka tersebut cenderung meningkat. Pada 1991 angka kematian akibat penyakit jantung sebesar 16 persen. Pada 2001 angka itu melonjak menjadi 26,4 persen. Angka kematian akibat penyakit jantung diperkirakan mencapai 53,5 per 100 ribu penduduk di Indonesia.

Sebenarnya tidak sulit mencegah penyakit mematikan ini. "Lakukanlah gaya hidup sehat," kata Phaidon. Gaya hidup sehat yang dimaksudkan adalah pola makan yang sehat, cukup olahraga, serta menghindari stres. Menurut Phaidon, pola makan yang sehat dan pengelolaan stres inilah yang kadang luput dari perhatian banyak orang, termasuk atlet.

Awas Jika Dada Sesak Mendadak


Ketika pelawak Basuki dan aktor yang juga anggota DPR, Adjie Massaid, meninggal, banyak pihak yang terkejut. Soalnya, kedua figur publik itu bisa dibilang menjalani hidup yang sangat sehat. Bahkan, keduanya wafat hanya beberapa jam setelah berolahraga.

“Ini yang sering disalahpahami, seolah orang kena serangan jantung karena berolahraga. Padahal, itu hanya pemicunya,” kata Dr Muhammad Yamin, Sp.JP(K), FACC, FSCAI, ahli utama kardiovaskuler dari Eka Hospital BSD City, Tangerang, saat peresmian pusat unggulan untuk penyakit kardiovaskuler di rumah sakit tersebut.

Pada kasus dua figur publik itu, kemungkinan bibit-bibit masalah jantung sudah ada, baik disadari maupun tidak. “Hanya sering kali tidak dirasakan, begitu terasa juga disangka masuk angin, lalu dikerok, ditunggu. Padahal, dalam penyakit jantung, dikenal time is muscle. Semakin banyak waktu terbuang, semakin banyak otot jantung yang rusak,” kata Yamin.

Ahli jantung yang juga berpraktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini mengatakan, dalam waktu dua jam sejak serangan pertama, sebanyak 50 persen otot jantung bisa rusak. Kerusakan otot jantung yang kecil sekalipun sangat berarti karena, seperti juga otak, jantung adalah organ yang harus terus bekerja dan berdetak tanpa istirahat.

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian (Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995). Demikian pula menurut Euro Heart Survey, dari total perawatan rumah sakit, sekitar 43,2 persen merupakan penyakit jantung koroner (PJK). Kejadian serangan jantung nonfatal dan kematian dalam enam bulan sebanyak 13 persen. Di Amerika Serikat, dari total kematian mendadak sebanyak 400 ribu, 90 persennya merupakan PJK.

Bagaimana dengan Indonesia? Yamin menyebutkan, saat ini, pada kelompok kematian jantung mendadak, 80 persen diakibatkan oleh PJK, 15 persen akibat kardiomiopati atau masalah pada otot dan fungsi elektrik jantung, 5 persen lagi disebabkan oleh hal lain.

“Banyak orang yang meyakinkan diri bahwa kondisinya baik-baik saja, padahal sudah ada masalah jantung yang tersembunyi,” kata Thomas R. Behrenbeck, M.D., Ph.D, SCCP, ahli jantung dari Mayo Clinic yang bermitra dengan Eka Hospital.

Penyakit jantung koroner adalah penyumbatan yang terjadi di pembuluh darah yang memberi makan otot jantung (pembuluh koroner). Biasanya disebabkan oleh proses penimbunan lemak atau aterosklerosis.

Faktor yang mempermudah risiko, misalnya hipertensi, merokok, diabetes, kolesterol tinggi, dan kegemukan. Aterosklerosis atau plak mengakibatkan pasokan oksigen dan makanan ke otot jantung menjadi sangat lemah. Otot jantung mengalami kelaparan asupan energi yang sering disebutiskemia.

Setelah bisa memahami dan mengendalikan semua faktor risiko yang mungkin ada, hal lain yang harus diwaspadai adalah munculnya nyeri dada yang tiba-tiba. Pada PJK, nyeri dada bisa muncul mulai di belakang tulang dada dan menjalar ke leher, dari dada menjalar ke bahu dan dada, dari dada menjalar ke rahang, dari dada bawah ke ulu hati (sering disangka sakit maag), di punggung, dan di antara dua belikat.

“Rasanya akan seperti nyeri akibat ada sesuatu yang menekan atau mengimpit dan berlangsung selama lebih dari 30 menit. Disertai gejala berkeringat di seluruh tubuh, mual dan muntah, serta sesak napas,” kata dr Frenky Yesaya Siahaan, Sp.BTKV, ahli jantung dari Eka Hospital.

Menurut Behrenbeck, penanganan dini pasien yang terkena serangan jantung sangat penting. Di Indonesia, yang belum memiliki sistem kedaruratan seperti di AS, bisa dibuat pengajaran kepada sebanyak mungkin orang agar mengetahui apa yang harus dilakukan saat tanda-tanda serangan jantung terjadi.

Apa Hubungan Posisi Tidur dengan Kepribadian?


Apa pun posisi tidur yang Anda sukai, para ahli meyakini bahwa posisi tersebut bisa mengungkapkan beberapa tanda. Menurut Profesor Chris Idzikowskia, pakar tidur dari Sleep Assessment and Advisory Service, ditemukan adanya korelasi antara posisi tidur dan sifat-sifat kepribadian.

Selain mengidentifikasi berbagai posisi tidur yang umum, yakni posisi janin (foetus), log, yearner, soldier, starfish, dan freefall,Idzikowskia yakin bahwa seaneh apa pun posisi tidur kita bisa berdampak pada kesehatan, baik maupun buruk.

Berikut berbagai posisi tidur dan analisisnya, silakan cek apakah analisis tersebut benar atau tidak.

Foetus (janin)
“Mereka yang tidur bergulung seperti posisi janin dideskripsikan sebagai orang yang tampak tangguh dan kuat dari luar, tapi memiliki hati yang sensitif. Mereka pemalu ketika pertama kali bertemu seseorang, tapi selanjutnya akan merasa rileks. Posisi janin adalah posisi yang paling umum dan kebanyakan wanita mengadopsi posisi ini ketimbang pria.

Starfish
Berbaring dengan punggung, sementara tangan berada di sekitar bantal. Mereka yang tidur dengan posisi ini bisa berteman dengan baik karena mereka selalu siap mendengarkan dan menawarkan bantuan ketika diperlukan. Mereka umumnya tidak suka menjadi pusat perhatian.

Freefaller
Berbaring telungkup dengan kedua tangan di sekitar bantal, sementara kepala menghadap ke salah satu sisi. Orang ini suka berteman, tapi kerap bersikap kurang sopan. Di sisi lain ia juga bisa menjadi penakut, tidak suka dikritik, atau situasi yang ekstrem.

Soldier
Berbaring dengan punggung Anda sementara kedua tangan berada di kedua sisi tubuh. Mereka yang tidur dengan posisi ini umumnya adalah orang yang tenang. Mereka tidak suka keributan, tapi menetapkan dirinya sendiri dan orang-orang lain dengan standar yang tinggi.

Yearner
Orang yang tidur miring ke salah satu sisi dengan kedua tangan di depan dikatakan sebagai orang yang terbuka, tapi bisa menjadi seorang yang sinis dan mencurigakan. Mereka sering lambat dalam memutuskan sesuatu, tapi ketika keputusan sudah dibuat mereka tidak akan pernah mengubahnya lagi.

Log
Tidur dengan posisi miring, sementara kedua tangan berada di samping tubuh. Mereka adalah orang yang easy going, manusia sosial yang suka menjadi bagian dari keramaian dan percaya kepada orang asing. Tapi kemungkinan mereka juga mudah tertipu.