Selasa, 03 Januari 2012

Kucing Lebih Berbahaya untuk Orang Dewasa

Tergoda memelihara anak kucing yang terlihat sangat lucu? Jika belum pernah memelihara kucing waktu kecil, sebaiknya batalkan. Dan jika tetap memutuskan untuk memelihara kucing, jauhkan mereka dari kamar tidur.

Mario Olivieri dari Rumah Sakit Universitas Verona, Italia, menyatakan di Jurnal Alergi dan Imunitas Klinis bahwa orang dewasa berisiko lebih besar terkena alergi dengan kehadiran kucing di rumah dibandingkan anak-anak.

"Data kami mendukung bahwa memperoleh kucing di usia dewasa hampir dua kali lipat berisiko memiliki sensitivitas terhadap kucing," kata Mario seperti dilansir Reuters, 28 Desember 2011. "Karena itu, orang dewasa harus lebih menjauhinya, terlebih mereka yang memiliki sejarah alergi."

Peneliti menemukan bahwa orang yang punya kucing dalam masa kanak-kanak memiliki risiko jauh lebih kecil daripada mereka yang baru memelihara kucing di usia dewasa. Ini karena saat kita kanak-kanak, tubuh membangun perlindungan terhadap kepekaan terhadap kucing. "Benteng" antibiotik ini tidak tercipta saat kita dewasa.

"Jika Anda orang dewasa dengan asma dan/atau alergi, Anda harus berpikir dua kali memelihara kucing dan terutama membiarkannya ke kamar Anda," kata Andy.

Untuk itu, ia merekomendasikan mencari rumah baru untuk hewan peliharaan. Peliharaan mereka juga harus dipastikan berada di luar rumah setiap saat. Soalnya, bulu kucing dan kuman-kumannya bisa menetap hingga bulanan dalam rumah anda. "Kalau memang harus di dalam rumah, setidaknya jauhkan dari kamar tidur Anda," kata dia.

Rahasia Panjang Umur Hingga 22 Tahun

Stres, gaya hidup tidak sehat, jarang olah raga, makanan berlemak membuat tubuh kita sakit. Meninggal dunia di usia muda karena stroke sudah bukan berita baru lagi. Bagaimana cara mencegahnya? Ini lima rahasia yang membuat Anda awet muda bahkan memperpanjang usia hidup hingga 22 tahun.

+ 2 tahun: Pilih salad daripada sup untuk makanan pembuka
Peneliti Italia menemukan makan setidaknya 1 cangkir sayuran mentah setiap hari dapat menambah 2 tahun hidup Anda. Mengapa mentah? Memasak dapat menghabiskan sampai 30 persen dari antioksidan dalam sayuran. Untuk jatah makan Anda, isilah kantongsandwich dengan cincangan paprika merah dan hijau, brokoli, dan wortel. Masukkan kantong ke dalam tas kantor Anda, bersama dengan dressing yang akan meningkatkan penyerapan nutrisi tertentu.

+ 3 tahun: Pelajari hukum Lard: lemak dalam tubuh Anda hari ini bisa membunuh Anda besok
Peneliti dari Universitas Alabama menemukan bahwa kenaikan indeks massa tubuh dari 25 menjadi 35 dapat mempersingkat hidup Anda hingga 3 tahun. (Kelebihan lemak tubuh meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker usus besar). Jika Anda antiolahraga, lakukan dengan pasangan Anda. Sebuah studi dari Duke University menunjukkan kecenderungan 50 persen lebih mungkin untuk berolahraga tiga kali seminggu jika pasangan mereka berpartisipasi.

+ 3 tahun: Makanlah kacang-kacangan segar
Ketika peneliti Loma Linda University melacak kebiasaan gaya hidup dari 34.000 anggota komunitas Adven Hari Ketujuh--populasi yang terkenal panjang umur—peneliti menemukan bahwa mereka yang mengunyah kacang 5 hari seminggu bisa menambah 2,9 tahun hidup di planet ini.

+ 7,5 tahun: Jangan lupakan, teman Anda adalah “punggung” Anda meskipun sama-sama mengidap osteoporosis
Dalam sebuah studi seventysomethings, peneliti Australia menemukan mereka dengan jaringan terbesar teman-teman memiliki usia terpanjang dalam hidup. Untuk pria rata-rata, jaringan pertemanan ini menambahkan hingga 7 tahun hidup di Bumi. Ya, beberapa teman dapat mendorong perilaku berisiko dari waktu ke waktu, tapi persahabatan justru memberikan perlindungan lebih. Jadi cobalah mengenal beberapa wajah baru di tempat kerja, sekadar mengobrol di gym, atau hanya mengatakan "hei" ke tetangga yang belum pernah Anda temui.

+ 7,5 tahun: Katakan pada diri Anda, “Ada kehidupan setelah pensiun”
Dalam sebuah studi di Universitas Yale, orang dengan pandangan positif bisa memundurkan proses penuaan hingga 7 tahun dibanding mereka yang berpikir adalah takdir menjadi tua, lemah, dan sakit. Laporan penelitian Psychosomatic Medicine menyebutkan sikap tidak egois bisa membawa pengaruh positif dan menjauhkan dari obsesi tidak sehat kala usia senja.

Gigi Putih dan Bersinar Belum Tentu Sehat

Sebuah senyum dengan gigi berkilau putih adalah tanda mulut yang sehat, kan? Belum tentu. "Putih dan kesehatan gigi Anda sama sekali tidak terkait," kata Mark Wolff, seorang dekan di New York University College of Dentistry.

Bahkan dokter gigi khawatir banyak orang yang memutihkan gigi mereka mungkin memiliki rasa puas palsu. Gigi mereka masih dapat menyimpan kerusakan dan penyakit gusi yang serius.

Orang yang tidak memiliki gigi berlubang juga dapat menderita radang gusi dan infeksi. Bisa jadi, air liur yang berfungsi melindungi enamel gigi berkurang karena kebiasaan menyikat gigi dan menggunakan benang gigi berlebihan, sehingga membuat gigi longgar.

"Saya mendapatkan pasien di pertengahan 30-an yang tidak memiliki gigi berlubang, sehingga mereka tidak berkunjung ke dokter gigi dalam 10 tahun. Ternyata mereka memiliki penyakit periodontal,” kata George Kivowitz, seorang dokter gigi restoratif di Manhattan.

"Mereka kehilangan semua struktur pendukung, dan aku harus memberi tahu mereka bahwa gigi cantik mereka akan jatuh keluar dari kepala jika tidak dibenahi.”

Menggunakan produk pemutih lebih sering dari yang direkomendasikan juga dapat mengikis enamel dan menyebabkan gigi semakin transparan tembus. Tapi apa penyebab gigi rusak sebetulnya masih kontroversial. "Tidak ada orang yang benar-benar menunjukkan bahwa itu merusak, tapi tidak ada pula yang tahu hasil jangka panjangnya," kata Dr. Marcus,periodontist di Yardley.

Perut Buncit Jadi Biang Penyakit

Kenikmatan menyantap jeroan sapi atau kikil berkuah santan tinggal kenangan bagi Hadiono. Sejak 2007, dokter memvonis bapak 10 anak ini mengidap diabetes melitus tipe 2, sehingga makanan yang kaya akan lemak harus dipantang. Kini, sayur dan buah yang harus diperbanyak agar kadar gula darah pria 79 tahun itu tak melonjak.

Tingginya kadar gula darah membuat pria bertubuh gemuk itu limbung sehingga harus mendapat perawatan medis. Tubuh gemuk plus gemar menyantap makanan tinggi lemak adalah risiko tinggi untuk terjadinya diabetes, yang kerap disebut dengan penyakit gula. Apalagi usia sudah di atas 45 tahun.

"Lemak yang menumpuk di dalam perut atau lemak visceral adalah dasar untuk terjadinya diabetes," kata Dante Saksono Harbuwono, dokter spesialis endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Hasil penelitian yang melibatkan lebih dari 700 orang dewasa dan diungkap dalam jurnal Annals of Neurology, Mei 2010, ini menyatakan, semakin berat volume lemak visceral, risiko untuk terkena diabetes tipe 2 akan terdongkrak. Karena itu, Dante mengingatkan, "Orang dengan perut buncit harus ekstra-waspada karena lebih rentan terkena diabetes."

Diabetes tipe 2 alias non-insulin dependent diabetes mellitus adalah diabetes yang tidak tergantung insulin. Meski tak serepot pada tipe 1, yakni diabetes tergantung insulin, diabetes tipe 2 tak boleh diremehkan.

Maklum, risiko komplikasinya tetap besar, seperti terjadinya gangguan pada mata, kaki, dan kulit; terdongkraknya kemungkinan darah tinggi (hipertensi); serta meningkatnya kemungkinan serangan jantung dan stroke.

Angka kejadian diabetes tipe 2 di Ibu Kota cenderung naik. Bahkan diperkirakan satu dari delapan warga Jakarta mengidap penyakit ini. Hal itu berdasarkan riset populasi oleh Divisi Endokrin dan Metabolik RSCM pada 2006, yang menyebutkan 25,4 persen responden mengalami prediabetes dan 12,8 persen sudah mengalami diabetes. "Angkanya sekarang mungkin lebih dari itu," kata Dante.

Untuk membuang lemak di tubuh, termasuk di perut, diet rendah lemak adalah kuncinya. Diet ini gampang-gampang susah dilakukan. Maklum, dalam keseharian, menu dengan unsur lemak, seperti penggunaan minyak kelapa, selalu hadir di depan mata. Bahkan, dalam gado-gado dengan beragam sayur pun, minyak tetap terlibat lewat tahu goreng atau bumbu kacangnya.

Dante juga menyoroti salah kaprah dalam kebiasaan makan orang Indonesia, yakni mengkonsumsi buah dan sayur, seperti salad, sebagai makanan penutup. Sudah saatnya kebiasaan itu diubah: sayur dan buah di depan, baru mengkonsumsi makanan pokok, seperti nasi yang mengandung karbohidrat tinggi. "Makan buah dan sayur di depan bisa memenuhi lambung agar keinginan makan nasi menjadi berkurang," ujarnya.

Pertimbangan lain yang tak kalah penting, buah dan sayur yang masuk lebih dulu akan merangsang keluarnya hormon inkretin, sejenis hormon yang dikeluarkan saluran usus. Selanjutnya, inkretin akan menuju ke pankreas sehingga organ ini mengeluarkan insulin.

Nah, saat kadar insulin sudah cukup dan makanan tahap kedua yang mengandung karbohidrat masuk, insulin akan menyetel agar sumber makanan ini tidak menjadi penyebab tingginya kadar gula darah di tubuh. "Tentu, agar kadar gula darah tak melonjak, asupan makanan yang manis-manis juga harus dikurangi," kata Dante. 

Ikan Turunkan Risiko Serangan Jantung pada Wanita

Para peneliti dari Denmark menemukan bahwa wanita subur yang tidak pernah makan ikan mempunyai peluang 50 persen lebih tinggi untuk mengalami masalah kardiovaskuler dibandingkan wanita yang mengkonsumsi ikan setiap minggu.

“Kami menemukan bahwa meskipun wanita hanya makan ikan dua kali sebulan, hal tersebut bermanfaat,” ujar ketua peneliti Marin Strom, mahasiswa postdoctoral di Center for Fetal Programming di Statens Serum Institute di Kopenhagen, Denmark.

“Para wanita yang mengkonsumsi ikan mendapatkan hasil yang menggembirakan," kata Marin. Namun jika ingin mendapatkan hasil yang optimal dari konsumsi ikan, kata dia, para wanita harus mengikuti rekomendasi diet yang disarankan. "Yakni makan ikan sebagai menu utama setidaknya dua kali seminggu,” kata Marin seperti dikutip oleh edisi online Hypertension dan dimuat di Health Day edisi 5 Desember 2011.

Tim yang dipimpin Marin Strom mengoleksi data dari 49 ribu wanita hamil antara tahun 1996 hingga 2008. Mereka ditanya mengenai seberapa sering mengkonsumsi ikan serta jenis ikan yang dimakan. Mereka yang berusia 15 hingga 49 tahun saat penelitian dimulai juga ditanya mengenai sejarah kesehatan keluarga dan gaya hidupnya.

Selama delapan tahun ditemukan 577 kasus kardiovaskuler, termasuk di dalamnya hipertensi, stroke, dan penyakit jantung. Lima dari mereka meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskuler.

Secara umum para peneliti menemukan semakin banyak wanita yang sedikit makan ikan atau tidak makan ikan sama sekali dirawat di rumah sakit untuk penyakit kardiovaskuler dibandingkan mereka yang suka mengkonsumsi ikan.

Menurut Strom, yang menjadi pelindung bagi penyakit jantung dan penyakit kardiovaskuler adalah minyak ikan omega 3 yang mempunyai rantai panjang asam lemak tak jenuh. “Sumber terbaik adalah ikan berlemak seperti salmon, haring, mackerel, ikan forel, dan Greenland halibut,” ujar dia.

Ditambahkan, meski ikan yang digoreng dinilai kurang sehat, menurut Strom hal tersebut tidak menghilangkan asam lemak di dalamnya.

Menanggapi hasil penelitian ini, Dr. Gregg Fonarow, seorang profesor kardiologi dari University of California, Los Angeles, mengatakan bahwa temuan tersebut konsisten dengan studi lain pada wanita yang lebih tua dan para pria. “Hasil riset ini lebih mendukung data bahwa asam lemak omega 3 dalam makanan sebagai suplemen adalah pelindung bagi penyakit kardiovaskuler," kata dia.

Musik Bantu Meminimalkan Rasa Nyeri

Berkonsentrasi pada musik bisa menjadi metode pengalih rasa sakit bagi orang dengan kecemasan yang signifikan, demikian hasil dari temuan terbaru.

Para peneliti dari Pain Research Center pada University of Utah di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, mempelajari efektivitas musik sebagai penghilang rasa sakit pada 143 kasus. Para relawan diminta untuk mengikuti melodi sehingga mereka bisa mengidentifikasi nada menonjol yang dibunyikan. Ketika menjalankan tugas yang diminta, para relawan itu juga mengalami rasa nyeri yang aman melalui elektroda yang dilekatkan di ujung jari.

Studi ini, yang dipublikasikan di Journal of Painedisi Desember, mengungkapkan bahwa rasa sakit bisa diminimalisasi ketika permintaan dari tugas musik meningkat. Para peneliti menjelaskan bahwa menyimak musik bersaing dengan jalur nyeri yang dialami partisipan. Dengan memicu respon emosional dan mendukung pikiran partisipan, tugas musik bisa membantu mengatasi rasa sakit.

Menurut para peneliti, ternyata partisipan dengan rasa cemas berlebih mengenai rasa sakitnya menjadi lebih asyik dengan tugas mendengarkan musik ketimbang mereka yang hanya merasa sedikit cemas.

Penyebabnya, menurut para peneliti, mengalami sedikit kecemasan ternyata mengurangi kemampuan partisipan untuk fokus pada tugas.

Para ilmuwan itu, seperti dikutip Health Day edisi 29 Desember 2011, menyimpulkan bahwa orang dengan tingkat kecemasan tinggi yang bisa disibukkan dengan aktivitas, seperti mendengarkan musik, dapat mengurangi rasa tidak nyaman yang dialaminya.

Karena itu, kata para ilmuwan tersebut, para dokter disarankan untuk memperhatikan sifat pasien mereka sebagai bahan pertimbangan sebelum menyarankan terapi rasa sakit seperti mendengarkan musik.

Kicauan Burung Tingkatkan Kreativitas Otak

Pagi yang indah selalu diawali dengan nyanyian burung. Fakta ini bukan hanya omong kosong biasa. Sebuah studi di Inggris yang dilakukan University of Surrey menyebutkan nyanyian burung dapat mempengaruhi kreativitas dan ketenangan batin seseorang.

"Sesuai dengan anekdot selama ini bahwa otak manusia merespons secara positif terhadap nyanyian burung, meskipun kurang banyak studi ilmiah yang bisa membuktikan hal ini," ujar peneliti dari Universitas Surray, Eleanor Ratcliffe, Kamis, 29 Desember 2011.

Menurut hasil penelitian Universitas Surray selama tiga tahun, selain membantu merilekskan otak dan tubuh, suara kicauan burung juga membantu otak menyelesaikan tugas yang membutuhkan kreativitas secara lebih cepat.

Ratcliffe menyatakan penelitian dilakukan terhadap reaksi psikologis yang mempengaruhi perkembangan tubuh, yang timbul akibat reaksi alam. Menurut Ratcliffe, masih banyak hal yang bisa diungkapkan dari kekuatan spesifik suara alam.

Decitan parau dari parkit liar atau decitan burung Magpie mungkin dianggap tidak memiliki efek menenangkan. Namun efek suara dari kedua burung itu, menurut Ratcliffe, dapat membangun kenangan bagi seseorang akan suatu perasaan atau tempat.

Penelitian selanjutnya yang akan dilakukan Ratcliffe adalah apakah suara parau burung yang direkam melalui peranti elektronik dapat mempengaruhi dampak yang sama terhadap otak dan perilaku manusia. Ia juga akan membagi penelitiannya atas kicau burung yang ada di kota dan yang ada di pedesaan.

Ratcliffe memerlukan waktu berjam-jam untuk mendengarkan kicauan burung di sebuah cagar alam pedesaan. Ia berharap dapat memberikan hasil yang lebih maksimal lagi mengenai dampak psikologis atas kicauan burung. "Mudah-mudahan hasil penelitian ini berkembang dalam tiga tahun," ujar Ratcliffe.